Langsung ke konten utama

INI DIA WANITA PECANDU TURBAN

KALABAHI-Sebagai generasi muda Alor, masing-masing kita punya cara untuk mempopulerkan dan melestarikan kekayaan budaya, adat istiadat, dalam hal ini melestarikan peninggalan leluhur. Ada yang hanya melakukannya dengan biasa-biasa saja, namun ada yang jadi pecandu. Sama halnya dengan Wanita berakun facebook, No Ayu, yang dengan caranya sendiri melestarikan tenun ikat.

Novita Ayu Oilsana, itulah nama wanita pecandu turban itu. Wanita kelahiran Monbang, 27 april 1993 ini sejak 3 tahun terakhir, terlihat selalu memakai Turban dalam perjalanannya keman-mana. Baik itu perjalan mempromisikan objek wisata bersama rekannya Michel “Vj Mike” Dakahamapu, maupun disetiap acara.

“Awalnya hanya sekedar gaya-gayaan saja untuk mempercantik koleksi foto-foto, eh malah sekarang menjadi candu. Sama seperti atribut kenegaraan yang ketika tidak digunakan itu terasa ada yang kurang dan belum lengkap” seperti yang dikutip pada kronologi akun facebooknya.

Dalam misi memperkenalkan tenun ikat Alor, itu yang menjadi alasan No Ayu menjadikan tenun ikat sebagai turban dalam perjalanan kemana-kemana.

Dia pun beranggapan bahwa minat pembeli tenun ikat khas Alor semakin meningkat sehingga para penenun harus bekerja keras siang malam untuk melayani pesanan. Semenjak wanita asal suku Kabola, Alor, Nusa tenggara timur (NTT) ini memakai tenun ikat jadi turban, menurutnya banyak menimbulkan persepsi dari beberapa orang yang dia temui, termasuk keluarganya.

”Selain menjadi ciri khas “Identitas dalam kain”, ada juga yang mengira saya ini baru datang dari kampung dan kejadian itu saya alami ditengah kota, tapi saya hanya bisa senyum saja kemudian berlalu” Dianggap ‘kampungan’, tapi dirinya tetap bangga sebagai orang muda Alor yang berani tampil beda untuk menyebarkan virus kebaikan bagi mama-mama penenun dan juga para generasi muda Alor lainnya.

Katanya sebelum mengakiri tulisannya, dia berpesan “Jangan sampai kita lupa folosofi dari menenun. Menenun benang-benang masa depan. Dengan menenun, para mama bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai berhasil”. Ayo,lihat lebih banyak tentang keindahan serta keunikan Alor, Silahkan Ikuti, Instagram @Zoom_Alor, Facebook dan Twitter. **(Zonalinenews)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tara Miti Tomi Nuku, Abui Masa Kini Yang Hidup

RADARNTT, Kalabahi – Bahasa ìbu (daerah) adalah ciri khas kehidupan dan identitas suatu individu atau komunitas tertentu yang harus dijaga dan dilestarikan. Agar tidak punah dan hilang tergerus arus jaman. Kabupaten Alor sebagai salah satu daerah yang unik di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), karena memiliki bahasa ibu yang sangat beragam bisa mencapai empat puluhan bahasa. Salah satu bahasa daerah yang digunakan luas adalah bahasa Abui, bahasa Abui digunakan di tiga kecamatan yaitu, Mataru, Alor Tengah Utara, Alor Barat Daya dan sebagian Lembur dan Alor Selatan. Salah satu semboyan masyarakat Abui yang sangat terkenal adalah Tara Miti Tomi Nuku, semboyan ini masih dikenal sampai saat ini dan menjadi spirit bagi genarasi muda. “Namun, dalam penulisan semboyan ini sering dijumpai banyak kesalahan. Sering orang menulis Taramiti Tominuku, ini salah dan perlu diluruskan agar tidak terbawa terus hal yang salah”, kata Danil Lanma via massangger Senin, (13/11/2017). Ma...

KENALI BUSANA ADAT TAKPALA

Busana adat perempuan (Zoom Alor) KALABAHI-Takpala dikenal sebagai salah satu objek wisata di kabupaten Alor, provinsi nusa tenggara timur (Ntt). Dengan tarian lego-lego dan cakalele serta berbagai ritual adat juga busananya membuat suku Abui dikampung Takpala tersohor dimata dunia. Berikut ini, mengenal lebih dekat busana adatnya. Selain rambut para perempuan digurai (dilepas), alas kaki pun demikian. Alas kaki berlalu juga untuk para laki-laki. Ini disebabkan karena dulu leluhur tidak mengenal yang namanya ikat rambut atau alas kaki. Bicara mengenai busana, konon orang tua menggunakan kulit kayu atau (kaa) dalam bahasa daerah abui. Itu digunakan hanya menutupi bagian tertentu saja (sekitar tahun 33-22-). Ini berlaku untuk perempuan maupun laki-laki. Karena adanya pergeseran, kemudian tenun ikat mulai dikenal dan digunakan. Busana adat laki-laki tempo dulu dan sekarang (Adidjaha & Saad) Tenun ikat ini mula-mula dibawa dari pesisir. Para penjahit pesisi...

Suasana Belajar Bahasa Abui di kelas (SD. GMIT Takalelang)