![]() |
| Busana adat perempuan (Zoom Alor) |
KALABAHI-Takpala
dikenal sebagai salah satu objek wisata di kabupaten Alor, provinsi nusa
tenggara timur (Ntt). Dengan tarian lego-lego dan cakalele serta
berbagai ritual adat juga busananya membuat suku Abui dikampung Takpala
tersohor dimata dunia. Berikut ini, mengenal lebih dekat busana adatnya.
Selain
rambut para perempuan digurai (dilepas), alas kaki pun demikian. Alas kaki
berlalu juga untuk para laki-laki. Ini disebabkan karena dulu leluhur tidak
mengenal yang namanya ikat rambut atau alas kaki.
Bicara
mengenai busana, konon orang tua menggunakan kulit kayu atau (kaa) dalam bahasa
daerah abui. Itu digunakan hanya menutupi bagian tertentu saja (sekitar tahun 33-22-).
Ini berlaku untuk perempuan maupun laki-laki. Karena adanya pergeseran,
kemudian tenun ikat mulai dikenal dan digunakan.
![]() |
| Busana adat laki-laki tempo dulu dan sekarang (Adidjaha & Saad) |
Tenun
ikat ini mula-mula dibawa dari pesisir. Para penjahit pesisir memanfaatkan
keahlian mereka dalam menenun tenun ikat kemudian ditukar dengan rempa-rempa.
Pada masa itu meroketnya sistem Barter. (kutip dari budaya tutur orang tua yang
sampai pada telinga generasi muda).
Untuk
sekarang, busana para perempuan, menggunakan; Keng (Sarong) dilengkapi dengan
Pakai/Fulak (Bakul tempat siri dan pinang), Awering (Muti pengikat
kepala/sekarang daun Koli), Fok (Ikat pinggang wanita) dan Lasing (gelang
kaki).
Sedangkan
untuk laki-laki; Nowang (Selimut) dilengkapi dengan Kiti-kiti (Mahkota/Pengikat
Kepala), Sora (kalewang), Pet Kafuk (Busur Anak Panah), Baisa (Ikat Pinggang),
Koling (Penangkis senjata), dan Kamol (Bakul, siri pinang).


Komentar
Posting Komentar